Happy Death Day
“Happy
Birthday!” adalah seruan bagi teman atau seseorang yang sedang berulang
tahun. Berbeda dengan “Happy Death Day”
sebuah judul film keluaran Oktober 2017 lalu. Mengusung genre hororr, thriller,
dan humor (atau mungkin sense humor aku
yang serendah ini). Happy Death Day suskses
menjadi Movie Of The Year versi Stefani On The Spot. Mengulangi hari
yang sama, tepat sesudah dirinya dibunuh dengan seseorang yang memakai topeng
lucu terasa menyeramkan.
Happy Death Day, membuat aku berfikir, tertawa, dan ketakutan. Menontonnya tepat pada
pukul satu malam menambah sensasi horor yang berlebihan. Tapi aku tidak
menyesal, karena banyak makna yang didapatkan. Asik ya, ritemenya a-a-a gitu, bukan? Selepas dari itu semua,
banyak pesan moral yang nggak secara gamblang disampaikan pemain, tapi dari
pemikiran masing-masing penonton.
“Ketika aku hidup berkali-kali, dan
mengulangi momen yang sama, aku semakin mengenal dan mengerti seburuk apa
diriku,” Tree, pemain utama dalam Happy
Death Day. Aku sering merasa mendapatkan hari-hari yang buruk, yang tidak
produktif, yang membuatku malas, yang menjengkelkan, yang membuatku menangis,
yang membuatku marah, yang membuatku tidak dapat mengontrol diri, dan yang
membuatku menyesali hidup. Sesudah berkali-kali bangun dari tidurnya, tentu
sesudah dirinya dibunuh berkali-kali pula, Tree mencoba memperbaiki satu hari
dimana dirinya melakukan yang terbaik dalam hidupnya, hal itu dilakukannya agar
tidak menyesalinya, karena dirinya hanya dapat merasakan satu hari secara
berulang.
Jika boleh mengulang satu hari, aku
akan memilih mengulang terus hari-hari di mana, aku sedang bersemangat belajar,
menemukan tujuan hidup, dan bahagia di setiap waktu. Tentu aku lupa tepatnya
pada hari apa. Sejujurnya aku sedang mengalami fase dimana kehidupanku terasa
membosankan, tidak ada orang yang peduli, dan kesendirian sahabat yang selalu
menghangati. Tapi, aku belajar dari Tree. “Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya
ingin Hari Esok.” Harapannya sebelum meniup lilin dengan Carter, seorang teman
yang menemani hari ulang tahun Tree yang cukup sendu.
Aku selalu berfikir memiliki hari
esok, sehingga aku dapat menggunakan waktuku hari ini dengan ‘Oh, yaudah.’ Padahal
banyak orang yang berharap hari esoknya. Tree salah satunya. Kekuatan sebuah film memang dari sisi
psikologis penonton. Banyak hal-hal yang membuat aku tertegun dalam film yang
dirilis bulan Oktober ini. Apa daya, harapan ingin menjadi salah seorang yang
menonton saat rilis pertama, ujung-ujungnya menjadi penonton terakhir dari lepi
tercinta dengan wifi dormitory yang
ala kadarnya.
Teruntuk kalian yang mulai merasa
bahwa perjalanan sebuah hidup semakin membosankan. yang abu-abu, dan tidak ada
seseorang untuk meletakkan bahu. Maafkan jika aku hanya bisa memberi saran
untuk menonton Happy Death Day. Film ini
tidak juga membuat kehidupanku sekedar ‘hompimpa’ sesuai arah dan tujuan, tapi
memberikanku gambaran, untuk terus melangkah kedepan. Bahwa hari esok belum
tentu ada.
Today is the first day of the rest of your life.
Jika bisa menjadi Tree, kamu ingin
mengulang pada hari apa? Dan kenapa? Jawab di komen ya!

Komentar
Posting Komentar