Keajaiban Sebuah Pujian

Bunga di parkiran asrama

Terjun di dunia organisasi selama perkuliahan adalah warna baru bagiku. Berorganisasi dengan orang, menyesuaikan diri dengan karakter dan watak yang berbeda, serta mengajukan argumen pendapat ke forum sudah menjadi makanan. Tidak dapat dielakkan pula, menjadi sebuah anggota atau seberapa penting bagianmu di sebuah divisi Organisasi kadang membuatmu membutuhkan sebuah pujian. Bukan gila hormat, atau haus apresiasi orang, tapi melinik lagi pada kenyataan. Hidup kadang berjalan sedemikian halnya. Menjadi seseorang yang sering dipuji menurutku ada kesitimewaannya tersendiri, kita menjadi lebih berani, lebih percaya pada diri sendiri dan ingin mengembangkan diri, lagi dan lagi.
          Aku mengikuti dua organisasi dalam setahun kehidupan perkuliahan. Dan aku tahu, di tempat mana aku bisa berkembang atau stagnan. Bukan salah kepala departemen atau pimpinan redaksi yang aku emban, namun bentuk apresiasi atau bagaimana mereka menganggap wujud kehadiranku diluar hubungan organisasi yang cenderung transaksional. Perkembangan ini lambat laun membawa kepadaku pribadi yang tahu bagaimana caranya menjadi pemimpin yang baik karena aku merasakan dibawah dua kepemimpinan yang berbeda. Terutama untuk mempimpin diriku ke arah mana yang mau aku tuju, kegiatan mana yang ingin aku kembangkan dan pelajaran hidup mana yang membuat aku lebih berkembang.
          Disaat kita tidak dianggap ‘hadir’ oleh suatu kelompok orang, aku yakin respon tidak nyaman dan merasa sense of belonging tidak ada, bukan salah satu pihak saja namun hal itu bisa menjadi bentuk evaluasi bagi sebuah organisasi, agar tidak hanya mengedepankan koordinasi, tapi komunikasi dan relasi. “Kamu sudah makan?”, “Gimana kelas hari ini?”, “Cie, udah punya pacar ya,” obrolan-obrolan nggak penting dapat menjadi penting ketika kita ingin mendekatkan diri ke seseorang. Lalu bagaimana bisa dekat apabila tidak ada pemancing?
          Tapi, malam itu, pada sebuah evaluasi salah satu organisasi yang aku ikuti. Aku mendapat apresiasi dari seseorang. Jujur, aku ingin menangis. Aku termasuk dalam nominasi orang yang dianggap remahan wijen, karena sejujurnya menurutku banyak orang beranggapan ‘lo bisa apa dulu, baru kenalin lo siapa’ dan seseorang itu mengapresiasi tulisanku. Tulisan yang sering aku simpan rapat dalam sebuah draf. Tulisan yang sering aku posting dalam blog pribadi. Tulisan yang sulit terjamah tangan-tangan manusia.
          Suntikan semangat untuk terus menulis tiba-tiba muncul. Mimpi-mimpi yang terbengkalai yang dahulu seakan menyusut, kembali disemaikan lagi. Keajaiban sebuah pujian bagi orang yang bahkan tidak pernah mendapat pujian terasa menyegarkan. Dan aku merasa, sudah berapa kali aku membuat pujian? Karena aku pikir, di luar sana khususnya, mungkin lebih banyak kasus-kasus kompleks lebih dari diriku. Jadi, beranikan diri memuji seseorang, sekecil apapun pekerjaannya, bukan pujian yang kita berikan tapi sebongkah pengakuan, tanpa kita sadari, bisa saja pujian biasa menjadi sebutir bibit tumbuhan yang mengakar kuat dan membuat dirinya menjadi pribadi yang kokoh dan semakin bermanfaat bagi masyarakat lainnya.
‘Shine with your own way, Ste’

#FYI Selama di dunia perkuliahan dapat panggilan baru, Ste.
With love,

Ste. 11:54 PM. Rabu 29 November 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sonichi

Absurb