Menanti Jawab Si Pemberi Harap

       Menanti Jawab Si Pemberi Harap
          Jatuh hati. Mungkin butuh waktu lama lagi untukku jatuh hati. Bukan jatuh hati sih, lebih tepatnya jatuh ke dalam belenggu ekspektasi. Ya. Bukan jatuh hati yang membuatku sesakit ini, tapi ekspektasi. Jatuh hati tidak mengenal batas dan balas dalam mencintai dan memberi afeksi. Lain halnya dengan yang kualami. Ekspektasi. Menejerumuskan. Masalah. Awal dari semua kekacauan hati ini, hingga aku kerepotan menatanya kembali.
          Ekspektasi telah menuntunku pada sebuah pengharapan semu. Yang di luar nalarku. Seakan menari-nari diatas khatulistiwa. Indah, nyaman, menenangkan. Tapi semua itu hanya sesaat. Seperti sebuah kepulan asap, yang lekat sejenak lalu sirna entah kemana.
          Andai aku bisa memilih, aku ingin hatiku bergerak seperti air. Mengalir, begitu saja. Jelas kemana ia akan bermuara. Tapi hatiku bergerak seperti angin. Sporadik, liar, dan tak bisa kukendalikan. Aku tak dapat memilih kemana hatiku akan berlabuh. Sialnya, sudah kesekian kali hatiku merengkuh sosok yang salah.
          Aku terlalu naïf memang, dalam memilih pasangan. Aku selalu berfikir, anak yang religious, ketua youth di gereja, aktifis gereja, anak pendeta, dan spesies cowo alim lainnya adalah orang baik-baik. Ya, mungkin ia “lelaki baik-baik” tapi belum tentu “pria baik-baik”.  Pria baik-baik tidak akan mempermainkan perempuannya begitu saja. Salah memang, aku sebagai perempuan yang jatuh pada sebuah ekspektasi. Namun, ekpektasiku bermula dari dia si  pemberi harap. Membuatku melayang jauh, dan sekejap meninggalkanku tanpa sebuah alasan. Baik, ya sangat baik untuk membiarkanku sebagai satu-satunya orang bodoh disini. Terus menerka-nerka sebab ia yang tiba-tiba berubah.
          Tuhan, kini hanya satu yang kuinginkan. Sebuah kejelasan. Suka atau tidak suka. Atau.. ada yang lain. Aku tidak mau ada atau-atau lain. Egois, serakah, gegabah. Ya mungkin aku jadi seperti ini. Memaksa Tuhan untuk memberikanku sebuah jawab nyata. Hanya kejelasan sebagai penentu langkahku selanjutnya. Tetap bersamanya atau menyerah bersama yang lain. Mungkin.
***
          Hatiku kacau lagi. Akhir-akhir ini memang aku tidak dalam mood yang baik. Ada saja hal yang mengganggu pikiranku. Kuliah, keluarga dan hubunganku dengan si dia. Kompleks, rumit, sulit untuk diterka. Aku tercekat. Ingin berteriak, menangis sekencang-kencangnya. Banyak sekali hal yang sebenarnya kusimpan sendiri. Ya hanya aku, dan ragaku.
          Sudah seminggu lebih, semua berubah. Aku jadi curiga. Curiga kalau-kalau hanya aku yang menggangapnya luar biasa, special, dan.. Jujur aku takut. Aku takut mendengar dan melihat kenyataan kalau dia hanya menganggapku sebatas teman. Atau lebih menyebalkannya “saudara seiman”. Diksi yang kerap kali dipakai para jemaat Kristiani. Hal yang paling kubenci saat ini adalah kenyataan. Kenyataan bahwa ia mendekatiku hanya untuk urusan “mencari jiwa”. Mengajakku pelayanan di gerejanya, seolah aku hanya seekor ikan yang masuk ke perangkapnya.
         
          “Ini gereja Ra, ini bukan soal kamu dan dia, tapi soal Tuhan”

Bisik hati kecilku kini. Tapi ini yang kubenci, lagi. Bersikap baik, perhatian, selalu ada, hanya untuk urusan gerejanya, lagi-lagi mencari jiwa. Apakah aku sekafir itu? Tidak. Aku sekarang berbantah sendiri dengan ragaku. Mungkin bukan lagi soal aku dan dia, atau aku dengan Tuhan tapi, aku dan aku, aku dan ragaku. Huf. Jawaban tak kunjung kutemukan. Kapan? Aku sudah mulai lelah mencari jawab. Menerka sebab. Yang akhirnya membuatku sembab. Semoga kali ini, bukan.

Dari: Tiera Ika P

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sonichi

Absurb

Keajaiban Sebuah Pujian