Keceriaan yang sesaat [CERPEN]

Sampai di hari kelulusan tiba,aku masih melihat bangku tua di sebrang gudang gedung swakarasuka. Gedung tempat hiruk pikuk orang mulai bercerita tentang pencapaian dan menangisi perpisahan dengan sahabat. Tapi aku menunggu orang yang tak lazim ditunggu. Dengan make up seadanya aku mulai memperhatikan bedak yang luntur di cermin, seolah mengerti kegundahanku muncul seseorang memberikan tissue. “Masis nunggu dia, ra?” “Hmm, pasti bentar lagi datang...” seyakin mungkin kujawab tatapannya pula. “Kamu nggak penasaran sama kabar teman-teman? Sekalian ambil foto sekelas? Terakhir kalinya lho ra,” kenangan itu meluncur. Kalimat terakhirnya menohok. Aku teringat memori mengenaskan pada sebuah situasi dimana saat itu ingatanku melemah...
“dit! Bangun! Gak usah sok-sokan acting!”
“Hmmm,uh-hu. Masih pagi jeng”
“Pagi-pagi, mbahem meteng! Ora le! Cepettttttttttttttttttt, aku numpak sepeda ndisik mboh!”
“Bawel, turuku nyaman tanpa suaramu, huh!”
Segera ku bawakan nasi beserta lauk pauk untuk mempercepat langkahnya. Aku suka sekali saat-saat seperti ini. Dimana masakanku yang pait berubah manis di mulut manusia bernama Adit. “Enak!” dia selalu mengatakan hal demikian walaupun yang ku masak gosong, dengan mata masih mengambang dan mulut banyak makanan, kita mengayuh sepeda bersama, tanpa memperdulikan waktu atau dihukum pak satpam jika telat,itu yang kita pikirkan,aku menikmati saat-saat bersamanya, meskipun waktu itu amat terbatas,sementara aku hanya tertawa sepanjang perjalanan, saling mendahului satu sama lain, dan sampailah disaat yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya
“dit, berhenti dulu, perutku sakit, magh ku kambuh.” Tanpa sadar sepeda asal ku letakkan dijalan dan aku jatuh terduduk
“sakit opo kue ra?” “ra!?” “raaa!?”  mataku kunang-kunang melihat bayangan wajahnya, dirinya berbicara seakan dengan nada bass dan suara itu lenyap seketika bersama dengan deru tronton di belakang sepeda, aku tak sadar berhenti di perempatan jalan besar, sudah tak sanggup menolong sepeda lincahku tapi saat itu juga aku kehilangan Adit-ku.
Mataku terus berair, makanan ku biarkan, karena aku tahu infus itu mampu mensuplay energiku. Adit meninggal, di belakangnya ada tronton yang menyentuh kepalanya, aku tak perlu melanjutkan, karena itu amat menyakitkan dan membuat aku bersalah. Rasa bersalah terus menggerogoti, bahkan sudah beberapa psikolog menjadi teman, tapi kulihat diantara mereka hanya ingin menjadi penyembuh lukaku bukan teman. Selama dua minggu aku mengurung diri di kamar, layaknya seperti anak depressi. Sampai pada suatu malam, rupanya Tuhan mulai menegurku. Dadaku sesak, aku tidak mengerti apa yang terjadi, aku menjerit dan meronta pada ibu, beliau datang membopongku, sampailah aku ke bangsal UGD. Aku malas melihat infus kembali tapi kali ini di ruangan berbeda dengan keadaan berbeda. Mereka memberiku infus dan detektor jantung di sebelah. Kata mereka paru-paruku bermasalah. Tapi yang ku dengar hanya ‘Rara kuat kok’ atau semangat alay semacamnya. Tiba di penghujung hari ketiga aku dirawat dan aku ingin segera pulang, mereka memberikanku keringanan dan pemeriksaan kembali.
Saat aku kembali ke rumah, aku terkejut melihat kamarku yang berantakan bukan main, ini bukan aku. Aku mulai melakukan rutinitas, dan juga kali ini aku di antarkan apabila pergi ke sekolah. Tapi aku tidak mengerti saat pertama kali tiba di sekolah teman-teman memberi tatapan iba, aku merasa biasa.
Satu tahun berlalu.
Ibu bilang dokter sengaja memberikan cairan pembunuh ingatan, tapi hanya sementara, untuk melupakan seseorang. Dan aku mulai merasakannya hari ini,tapi aku masih menyimpan pertanyaan sampai hari ini, Siapa namanya? Siapa yang membuat ku terasa kosong seperti ini? banyak yang ku tanyakan tapi orang-orang di sekelilingku bilang lupa atau itu hanya masa lalu. Persetan dengan masa lalu! Apa haknya melarang aku mengetahui masa laluku? Aku masih mengingat kenangan bersamanya, tapi namanya susah ku ucapkan, ingatan yang aneh.
Tolonglah kembali, kenalkan dirimu padaku sekali lagi, agar kenangan ini bukan seperti foto blur yang samar-samar terlihat, aku ingin memberi bingkai lalu ku pasang di dalam lubuk paling dalam karena kuyakin kamu adalah hasil foto termanis tanpa nama.
“Dia sudah pergi lama, kalaupun dia datang, pasti dia temuin kamu dulu...” Reza mengagetkan lamunanku. “Ayo, masuk.” Tangannya terasa tarikan seorang teman bukan penyembuh.
”Hmm, ayo.”


-selesai-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sonichi

Absurb

Keajaiban Sebuah Pujian