The power of Petak Umpet


Pernahkah kamu merindukan masa kecilmu? Saat permainan petak umpet lebih menghadirkan tawa segar daripada sejumlah likers foto instagram. Atau pernahkah kamu ingat pada permainan ular naga yang membawa masa kanak-kanak kita mengerti arti kekompakkan dan paduan suara tak berirama. Masa-masa emas itu sudah lama berakhir. Sekarang saat aku melihat sekeliling, kulihat rumah yang memiliki tempat duduk dari semen itu, rumah temanku Ani, mungkin sekarang dirinya sudah duduk di bangku SMA. Kenapa bisa ku bilang mungkin? Sudah lama dirinya pindah, kini rumah itu di kontrakkan, jadi wajah tetangga baru selalu menjadi corak rumah itu. Kemudian di depan rumah Ani, kuingat itu rumah Michelle. Wajah yang ceria dan cerdik, menggemaskan, paling semangat kalau main, tapi itu dulu, SD tepatnya. Dirinya juga sudah pindah, ntahlah kemana, sudah banyak tahun yang terlewatkan tanpa kunjungan darinya, masih banyak lagi teman-teman sekomplek rumah yang terbawa arus mobilisasi, mulai dari alasan keluarga,ekonomi atau pendidikan. Di jaman itu, kita belum mengerti hal seperti ‘yuk sebelum main selfie dulu’ kita hanya mengerti bagaimana menikmati waktu, disaat orangtua sibuk dan kita bebas jingkrak-jingkrak diluar. Apalagi jika main petak umpet di malam minggu, sesudah petak umpet kita bercerita banyak hal, dari cerita horor sampai kisah disekolah, persaudaraan antar rumah yang dirindukan bukan? Tidak ada yang perlu disesalkan, aku bersyukur bisa menikmati masa-masa itu. Bahkan tak kusangka salah satu teman sepermainan kita, sudah meninggalkan kita selama-lamanya dengan usia cukup muda. Tapi aku masih punya satu saudara,teman bermain kecilku,dan sahabat yang masih bersamaku disini, ditempat yang sama. Dia sekarang duduk di bangku STM. Dirinya juga masih tetap sama, terakhir ku iseng membuka file usang sepuluh tahun yang lalu kudapat video lpsic cherrybelle love is you bersamanya di dekat sungai, divideo itu, sepanjang lipsic aku tertawa terus, bahkan saat melihat ulang aku ingin menangis, tawa itu benar-benar memilukan dimana saat itu disisiku banyak orang yang membuat siang dan sore terlalu cepat. Tapi jangan anggap masa kecil selalu indah, kadang aku merasa sudah tertekan sejak kecil. Aku dihujat, tidak tau malu. Sudah besar main sama anak TK. Begitulah ucapan mereka,ntah kenapa hujatan itu serasa angin lalu,walaupun sisa teman sepermainan yang seumuran sebatas anak SD-sedangkan saat itu aku sudah SMP-aku masih tetap berlari ikut berebut layangan putus, atau mencari telo di sawah,jalan-jalan lihat petani menanam padi. Aku sungguh menikmati masa-masa itu. “Kita gini terus yuk tiap malam petak umpet bareng!” pikir salah seorang anak yang mengira umur hanya sebatas SD dan belum tau apa itu dunia luar.
Bulan depan aku akan mendapati hari libur yang panjang, atau bisa disebut perjuangan, aku juga akan meninggalkan komplek kecilku, dan sepertinya aku juga terseret arus mobilisasi.

This post special for: Grace,Ella,Ani,Putri,Michelle,Eca,Fedrik,Lisa,Rahma,Rio,Ayuk,Dedi,Isal,Galang,Denis,Adit,Riko,Ega. mungkin masih banyak, maaf jika kulupa, terimakasih sudah membuat masa kecilku bukan hanya mengenal dunia nyata dengan benar ,tapi dunia yang benar-benar nyata. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sonichi

Absurb

Keajaiban Sebuah Pujian