[[CERPEN: JANGAN RAMPAS BEBANKU]]

Beribu pikiran buruk sudah ku tendang keluar pikiran, memikirnya lagi sudah tidak sanggup bagiku, lambat laun aku mendengar suara tetesan air hujan sekan alam tau keadaan hati saat mata ku tidak sanggup lagi mengeluarkan air mata. Ku mempererat jaket yang seakan sudah menempel karena kulitku seakan mati rasa, mataku tak tahu melihat kemana seakan semua jalan sama, aku terus menelusurinya tanpa sadar ada cahaya masuk dan mulai meredup perlahan ku beranikan diri melihat kedepan, mobil brondol kuno itu mulai memarkirkan sesuai posisi trotoar, aku tidak peduli lalu ku lanjutkan langkahku seperti orang yang tau kemana tujuannya, saat kurasa hujan berhenti tapi didepanku masih ada rintik hujan, ku menengadah ke langit, melihat sebuah payung berwarna pelangi menghiasi atas kepala, di sampingnya ada seorang yang dengan kehujanan karena payung itu cukup kecil melihat kearahku seakan aku mahluk yang kedinginan, lemah, dan.. “masuk ke mobil aja gimana? Hujannya mulai deras,” tanpa memperkenalkan dirinya, penawaran itu muncul, dengan malas ku jawab pula tawarannya “tidak usah peduli pada orang yang baru kau temui di jalan, pergilah” kakiku mulai melangkah tapi ada tangan yang mencegah sesudah dua langkah kaki, dirinya menarikku kedalam pelukannya, payung itu jatuh, terlihat tetesan air hujan dipelupuk matanya seakan dia juga menangis merasakan kesedihan pula, ku coba melepaskan diri dari pelukan itu,ternyata caraku salah, dengan memberontak aku semakin kuat di tahan, “apa maumu nang? Biarlah urusanku menjadi tanggung jawabku supaya aku bisa lebih dewasa dalam menyikapi sesuatu, jangan memotong langkahku,” mataku mulai berair mengingat kejadian tadi, dimana seorang laki-laki yang kucinta, Dani, kupergoki sedang memangku seorang wanita berperawakan layaknya wanita murahan di dalam kamar, seakan memori itu kembali mengingang berkali-kali, lalu kulihat di depanku, Danang, dia sahabat lelakiku dari awal masuk perkuliahan, dia yang mengenalkanku pada Dani, karena rasa bersalahnya seakan seluruh bebanku ini ingin di bawanya,sungguh amat egois. “Aku tau, ayo ku antar ke kos, gak baik kamu kehujanan malam gini” matanya memancarkan kepedulian bukan kasihan, lalu kuingat kembali tujuanku, jalan itu merukan arah menuju rumah Ovin, ya, aku ingin menangis di depannya mencurahkan hatiku, tapi apa Ovin mampu menghilangkan bebanku yang kian lama mengkeruh di hati ini? “apa pedulimu padaku? Membuatku menangis bahagia setelah melihat kejadian bahwa Dani seorang playboy atau buaya? Dan menganggap kau pahlawan?” jawabku beringas, perasaan marah itu muncul seakan semua masalah kusalahkan pada Danang dan menganggap dengan begitu beban yang kubawa beranggsur sedikit tapi nyatanya berkebalikan. Perlahan danang melepaskan pelukannya, hawa dingin mulai menusuk sumsum lagi, sekali lagi kurapatkan jaket dan tanpa menatap matanya ku berbalik arah melangkah menjauhi dirinya yang ku perkirakan melihatku tanpa berkedip “Ris, jangan pergi. Kuanggap dengan bersama Dani kamu bisa menikmati masa remajamu, menjadi seorang wanita yang dicintai, tapi aku salah, aku terlalu pesimis untuk memilikimu ris, aku terlalu lama menunggu dan berharap cinta itu muncul dan kamu yang mengatakan cinta itu, aku sulit mengunggkapkannya, aku mudah melakukannya dengan cara memelukmu seperti itu, menghilangkan kedingin dari tubuhmu, memperhatikanmu dari jauh, menghapus walau beberapa bukan seluruh tetes air matamu.” Sayangnya hal itu di ungkapkan Danang dalam hati jauh sesudah Riska melangkah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sonichi

Absurb

Keajaiban Sebuah Pujian