One year ago
Oh ini hari minggu ya? Padahal satu tahun yang lalu tanggal
29 maret 2014 itu hari Sabtu loh. Cepet banget deh ya, waktu ini. Nah apa
hubunganna ketika aku membahas tanggal 29? JRENG JRENG!
Tanggal itu di mana salah satu kebahagiaanku bisa terukir.
Iya, hari itu ceritanya Aku,Tia,Puji,Tatik dan Nurul menginap bersama di rumah Tia (yang sebenarnya Rumah Dinas Ayahnya).
Kami melakukan hal-hal konyol yang menyenangkan sepanjang hari! Games pertama, kita bermain bola basket bersama dengan tidak ada maksud untuk lebih unggul karena kita sama-sama 'standar' dalam olahraga ini. Luas lapangan di depan Rumah Tia kami manfaatkan tidak dengan wajar. Lari kian kemari terasa anak sore hari yang baru keluar dari kerangkeng a.k.a kandang, FEEL SO FREE AND HAPPY!
Sengaja wajahnya disamarkan.
Selanjutnya, kita memilih permainan yang
lebih konyol, yaitu jalan kaki sampai ke Stadion Joyo Kusumo Pati untuk main basket lagi. FYI (For Your Information) kira-kira perjalaan kita bisa terhitung 2 s/d 3 kilo meter. Keinginan menggebu-gebu ini beralasan karena pada hari senin esok pelajaran olahraga kami mengambil penilaian Basket. Dengan poin plusnya, di Stadion Joyo Kusumo sering terdapat cowok-cowok macho yang sedang berlatih olahraga maka tidak salah juga jika kami ingin terlihat keren main basket, barangkali diajarin gitu kek, kayak di FTV-FTV.
Stamina sudah siap, kaki semangat, namun baru satu langkah ternyata kisah FTV itu berulang pada kehidupan nyata kita. Kita berlima bagaikan gembel. Tiba-tiba ada nyonya manis memakai mobil yang ternyata kerabat dari salah satu teman kita, Nurul, menyediakan tumpangan untuk ke Stadion Joyo Kusumo. Jelas! Kami tidak menolak. Kesempatan super pas ini rasanya kurang tepat ketika pakaian kita yang sudah beraroma tidak sedap bersanding dengan AC Mobil yang mana menyebabkan bau kita menjadi semakin populer.
Dengan keheningan yang tercipta di mobil membuat kita mengerem bau-bau aneh keluar kembali. Mungkin dari jigong atau dari? Yasudah kenapa melenceng. Kami tiba di Stadion Joyo Kusumo!
Stadionnya full orang.
Lapangan basketnya juga full.
Terlalu banyak orang.
Sungguh kisah kami semakin dramatis.
“Mbak, boleh pinjam lapangannya? Buat latihan sebentar aja, hehe” pertanyaan menantang dari anak cupu kepada 'sepertinya mbak' yang jago main basket. Setelah dirinya mengiyakan kami berlima melakukan selebrasi yang lagi-lagi sudah mirip anak TK diberi nilai NOL tapi dikasih tambahan SATU didepan sama temennya sendiri, oke ini absurb banget.
Setelah bermain basket yang alakadarnya, Mbak-mbak yang tadi membolehkan diriku meminjami lapangannya datang dan menawarkan diri untuk mengajari kami. Mungkin permainan kami terlalu menyedihkan sehingga ada orang yang seiba ini. Jelas! kami mengiyakan. Permainan dan pelatihan berlangsung cukup seru dan kurang sengit karena tidak ada lawan. Maka tepat pukul empat sore kami pulang dan benar-benar JALAN KAKI tanpa insiden bertemu mobil. Hanya mobil plat kuning yang selalu sedia menawarkan dan berteriak "Mbak ayo mbak mau kemana" iya benar, itu angkot.
Sampai di rumah Tia dengan selamat. Mandi giliran, kemudian cari makan dan alhasil kami memiliki ide fantastis. "Udah ada yang pernah ke
tampang memelas sudah mendarah daging dalam diriku, jadi woles aja pasti dibolehin. “Oh boleh,” nggak tau inisiatif atau maupamer menunjukkan keahliannya main basket, anak itu
bantu kita, ajarin cara drible yang baik, masukin bola ke ring, sudah berasa
dewa banget ini anak main basket kayak bawa bulpoin,gampang banget cuy.
Stamina sudah siap, kaki semangat, namun baru satu langkah ternyata kisah FTV itu berulang pada kehidupan nyata kita. Kita berlima bagaikan gembel. Tiba-tiba ada nyonya manis memakai mobil yang ternyata kerabat dari salah satu teman kita, Nurul, menyediakan tumpangan untuk ke Stadion Joyo Kusumo. Jelas! Kami tidak menolak. Kesempatan super pas ini rasanya kurang tepat ketika pakaian kita yang sudah beraroma tidak sedap bersanding dengan AC Mobil yang mana menyebabkan bau kita menjadi semakin populer.
Dengan keheningan yang tercipta di mobil membuat kita mengerem bau-bau aneh keluar kembali. Mungkin dari jigong atau dari? Yasudah kenapa melenceng. Kami tiba di Stadion Joyo Kusumo!
Stadionnya full orang.
Lapangan basketnya juga full.
Terlalu banyak orang.
Sungguh kisah kami semakin dramatis.
“Mbak, boleh pinjam lapangannya? Buat latihan sebentar aja, hehe” pertanyaan menantang dari anak cupu kepada 'sepertinya mbak' yang jago main basket. Setelah dirinya mengiyakan kami berlima melakukan selebrasi yang lagi-lagi sudah mirip anak TK diberi nilai NOL tapi dikasih tambahan SATU didepan sama temennya sendiri, oke ini absurb banget.
Setelah bermain basket yang alakadarnya, Mbak-mbak yang tadi membolehkan diriku meminjami lapangannya datang dan menawarkan diri untuk mengajari kami. Mungkin permainan kami terlalu menyedihkan sehingga ada orang yang seiba ini. Jelas! kami mengiyakan. Permainan dan pelatihan berlangsung cukup seru dan kurang sengit karena tidak ada lawan. Maka tepat pukul empat sore kami pulang dan benar-benar JALAN KAKI tanpa insiden bertemu mobil. Hanya mobil plat kuning yang selalu sedia menawarkan dan berteriak "Mbak ayo mbak mau kemana" iya benar, itu angkot.
Sampai di rumah Tia dengan selamat. Mandi giliran, kemudian cari makan dan alhasil kami memiliki ide fantastis. "Udah ada yang pernah ke
tampang memelas sudah mendarah daging dalam diriku, jadi woles aja pasti dibolehin. “Oh boleh,” nggak tau inisiatif atau mau
Lanjutttt habis itu kita ‘on the foot’ dari Joyo ke Rumah
Tia dengan segudang rencana kegiatan yang seru, sesudah mandi kita otw cari
makan, terhentilah mata kita di warung pinggir jalan Mie Ayam.Tanpa berdiskusi,
kita langsung capcus makan. Oiya efek aku, Tia dan Puji belum bisa ngendarai
motor, jadi aku Tia & Tatik udah kayak cabe gonceng bertiga, banyak
banget tuh pengendara lalu lalang lihatin kita, berasa risih aku atas dasar
positif thingking mengira mereka belom lihat cabe-cabean yang kumel dan
penampilan super formal gini.
Warung wis go ngopi (ngopi dan makan jajan seperti pada
umumnya orang melakukan hal begini di sebuah warung)
Ini bersama pemilik warugnya yang kebetulan guru kita sendiri , his name Mr. Ragil
Mall Luwes (karaokean,
main game basket, lihatin cowok gay pegangan tangan, serius.)
Cabe lagi nyanyi, sengaja pilih foto yang blur biar misterius gitu (?)
Lagi nunggu ruang karaokean yang kosong nah pas ini lihat gay gandengan serius, kasihan padahal cowoknya cakep lho
dan yang
terakhir kita kasih surprize Brithday ke teman kita yang pinter banget saking
pinternya kepalanya udah kayak lapangan terbang, like me too kok.
“HBD PUJIIIII!!!!” kalaupun kita nangis saat itu Puji pasti
nangis, tapi dia cewek kuat dan pasti nggak menduga kita bakal ngerayain
ultahnya walaupun telat sehari .
Puji yang di tengah, embem banget kan? Ah, miss it :(
“Krucuk krucuk..” bukan itu bukan suara
sms, tapi suara perut lapar kami. Karena cacing yang demo di dalam perut sudah
mainstream cacing di perut kita pada eek masal. Tanpa berpikir panjang kali
lebar, aku membeli sebuah produk yang iklannya kalau nggak salah “Pengen buat
nasi goreng dengan bumbu instan? Ini aja enak kok” sumpah lupa deh itu iklan
kayaknya meyakinkan, tapi..... zonk!
Sukses buat cacing ini eeknya gede-gede, karena rasanya
asin, asin doang. Heran! Kenapa iklannya begitu menipu? Mungkin efek lapar,
jadi kita tidak memikirkan gimana rasanya, tapi gimana bisa makan. Iya deh kita
makan semua, makan terus, sampai habis dan tepar!
Tuh kan kita makan juga nasgor acak adulnya , aih.
Salah satu kebiasaan yang terpeliharaku itu gak bisa tidur
di tempat baru, aku menyadarinya kemudian membangunkan si Tia, “ada film gak
yak? Gak bisa tidur nih” sejurus kemudian Tia memberiku segepok hardware yang
katanya isi film. Setelah memilih, aku memilih film cinta dalam saku, kayaknya
sih gitu judulnya. Trus tanpa tau sampai mana ceritanya aku melihat temanku
yang sudah tertidur lelap. Aku nggak tau harus bersyukur dengan cara apa kepada
Tuhan, menghadirkan teman-teman yang setia memberi terobosan tawa yang serasa
menyegarkan jiwa. Mereka membuat rutinitas ku kembali berwarna. ‘Rejeki itu
bukan hanya uang tapi kehadiran teman-teman’ kata orang bijak sih gitu tapi
akhirnya aku percaya kata-kata itu benar dan tahukan kalian. Aku menulis cerita
ini pukul 21.00 dan harus di posting hari ini karena aku nggak mau kenangan ini
terhapus di memoriku suatu saat karena lebih banyak rutinitas yang perlu
diselesaikan, aku akan mengingatnya sebagai ‘The best moment’ yang seumur hidup
atau sampai akhir hayatku terkenang. Love u more gus! J






Komentar
Posting Komentar