Sebuah cerita di suatu hari

Hari itu, aku seperti saja tertidur dan mendapati mimpi yang indah. Begitu indahnya dunia jika kita bertemu dengan idola kita . Sekali lagi ku cubit lenganku berharap hari ini bukan mimpi. Aku menginjakkan kakiku di mall FX senayan.Lima  jam aku menunggu untuk bertemu sang idola. Tapi di samping itu, diriku juga bertemu dengan seorang teman dari dunia maya. Aku mengenalnya sudah satu tahun lebih. Berawal dari sama-sama mengidolakan girl band yang (dulu) sempat bomming di tanah air, aku dan dirinya sering sekali berinteraksi lewat twitter ataupun sms.
Dengan persiapan yang seadanya, ditambah wajah linglung, aku melihat sekitar Fx sudirman. Tempat idol grup JKT48 menempatkan ‘istana’ bagi para fansnya. Betul sekali. Teater JKT48. Sekarang aku sudah menginjakkan kaki disana. Tanpa ada aba-aba siap-sedia-mulai, seorang laki-laki dengan wajah bingung seperti kehilangan sesuatu, datang menghampiriku.
“Ini, stefani bukan?” DEG. Kira-kira seperti itu kalimat pertama yang diucapkannya kepadaku. Sejujurnya, aku sudah mengetahui sosok yang sebelumnya akan menghampiriku ini,ingin sekali ku berlari untuk menyembunyikan wajahku. Malu. Bukan. Isin. Nah, itu. *tiba-tiba di tampar*
Kalimat yang dia ucapkan itu, seketika mengingatkanku pada sosok laki-laki di kala dahulu sering mengisi notif di twitter maupun BBMku.  Teman dunia maya ku sekarang sudah berada di depanku, memakai sweater biru, dan memakai kacamata yang ketebalannya masih misterius untuk di ketahui.
Hati ini terus kesetrum, ntah rasa apa ini. Bukan gejala stroke hati kan?
Jatuh cinta? Ah, (mana) mungkin...
Gugup. Itu respon yang aku berikan. Bayangkan saja, jika dirimu baru keluar dari kamar mandi, kemudian bertemu dengan seseorang yang (cukup) spesial di dunia maya dan... bertemu di dunia nyata. Ku mengalihkan perhatiannya dengan kalimat “Oh. Iya ini kakakku.”
Selagi kakakku bertanya-tanya kepadanya tentang ‘kamu-gakpapa-kan-dapat-no-WL-akhir’ aku menyibukkan diri dengan membuka twitter dan menutupnya lagi, kemudian membukanya lagi, dan kulakukan terus berulang-ulang. Sekitar lima menitan, dia ijin mohon diri untuk pulang dulu,dirinya juga menambahka apabila konser akan di mulai, dirinya kembali lagi. Huft. Pernyataan itu membuatku bernafas lega. Tapi, ketika sampai di lift, ku lihat dirinya berjalan lagi ke arah kami. Mampusss. Perasaan ‘hati kesetrum’ menghantui lagi. Tapi, ternyata dirinya tidak bertanya ke arahku, malah melanjutkan ceritanya tentang tema yang di usung kakakku ‘kamu-gakpapa-kan-dapat-no-WL-akhir’

Diriku kembali menjadi orang sibuk. Ingin sekali ku berlari ke hutan, kemudian bersembunyi di semak-semak, tapi kembali ku ingat, ini di mall, bukan di hutan. Ingin sekali ku masuk lift, kemudian turun di bagian basement, tapi ku tak tau cara mengoperasikan lift. Duh, memang susah jadi orang ndeso. Sekali lagi ku berfikir. Ingin sekali ku masuk ke dalam... belum sempat melanjutkan semua angan-angan itu, kakakku dan dirinya sudah mengakhiri pembicaraan. Dirinya sudah memutuskan untuk pulang dan merencanakan langkah selanjutnya dia ingin makan-tidur-nge cash hp-mandi. Lagi-lagi, tanpa ada aba-aba dirinya meraih tanganku untuk bersalaman. Rasanya itu, *tiiiiiiiiiiiiiiiit*
Sekarang dirinya benar-benat pulang. Aku bernafas lega sekali. Bukan main leganya.

Aneh bukan mainnya, aku tak sabar menunggu kedatangannya kembali . Jam enam tepat. Tapi dia belum datang. Jam enam lebih, dirinya datang. Dengan kemeja coklat, kacamata dan sepatu putih, dirinya terlihat menarik dimataku , tapi belum tentu dimata orang lain. Hingga pada saat pembagian bingo, dan nomor undi untuk masuk ke teater JKT48,dirinya dan kakakku belum beruntung untuk mendapatkan tiket WL, dengan berat hati aku mengikuti konser JKT48  ini tanpanya. Ah, rasanya tak sempurna. Tapi, sosok idolaku tiba-tiba muncul, dirinya mengalihkan perhatianku sesaat. Hanya selama dua jam. Kemudia saat keluar dari teater, aku bertemu lagi dengannya. Dirinya bertanya tentang sudah ku sampaikan apa belum salam untuk beby member JKT48, . Aku lupa. Aku juga lupa meminta maaf padanya. Saat naik lift bersamanya. Aku berpisah dengannya, dan sampai saat ku membaca ulang ataupun menulis cerita ini, perpisahan itu ingin sekali ku ulang, ulang dan ulang. Sekarang aku sudah pulang ke tanah kelahiran. Meniggalkan ibu kota. Sejuta kenangan terukir disana. Ingin sekali ku meminjam mesin waktu doraemon, menumpahkan segala kegelisahan ini. Aku merindukan seorang yang memakai sweater biru itu. Dan lagi-lagi aku sadar. Bahwa orang yang jatuh cinta diam-diam, hanya bisa jatuh cinta sendirian...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sonichi

Absurb

Keajaiban Sebuah Pujian