Keceriaan yang sesaat [CERPEN]
Sampai di hari kelulusan tiba,aku masih melihat bangku tua di sebrang gudang gedung swakarasuka. Gedung tempat hiruk pikuk orang mulai bercerita tentang pencapaian dan menangisi perpisahan dengan sahabat. Tapi aku menunggu orang yang tak lazim ditunggu. Dengan make up seadanya aku mulai memperhatikan bedak yang luntur di cermin, seolah mengerti kegundahanku muncul seseorang memberikan tissue. “Masis nunggu dia, ra?” “Hmm, pasti bentar lagi datang...” seyakin mungkin kujawab tatapannya pula. “Kamu nggak penasaran sama kabar teman-teman? Sekalian ambil foto sekelas? Terakhir kalinya lho ra,” kenangan itu meluncur. Kalimat terakhirnya menohok. Aku teringat memori mengenaskan pada sebuah situasi dimana saat itu ingatanku melemah... “dit! Bangun! Gak usah sok-sokan acting!” “Hmmm,uh-hu. Masih pagi jeng” “Pagi-pagi, mbahem meteng ! Ora le! Cepettttttttttttttttttt, aku numpak sepeda ndisik mboh!” “Bawel, turuku nyaman tanpa suaramu, huh!” Segera ku bawakan nasi beserta lauk pauk un...